a
Selamat Datang di Blog Pribadi Samsul Bahri - Hadir Untuk Berbagi

Sabtu, 02 Juli 2016

RAMADHAN PERGI, SEDIH ATAU GEMBIRA ?


Hari ini 27 Ramadhan, itu artinya tamu istimewa Ramadhan akan segera pergi meninggalkan kita dan Syawal akan datang menggantikannya. Kegembiraan akan datangnya syawal sudah terasa, dimana - dimana orang sibuk mempersiapkan diri menyambutnya. Baju baru, kue mueh hingga perabotan di siapkan sedemikian rupa, bahkan rumah sudah berganti cat. Pusat perbelanjaan ramai, jalanan padat merayap. Begitulah antusiasnya kita menyambut datangnya Syawal.
Pertanyaannya kemudian adalah, apa yang membuat kita begitu gembira dan merasa bahagia ? Merasa menang sudah berhasil
melawan hawa nafsu ? Atau gembira & bahagia karena dosa sudah di ampuni ? Atau jangan - jangan kita gembira & bahagia karena tidak puasa lagi. Sehingga merasa bebas sebebasnya ? Allahu a'lam. 
Kondisi ini berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Rasulullah dan para sahabat serta salafus shaleh. Orang - orang pilihan tersebut sangat bersedih ketika Ramadhan akan pergi. Bulan yang sangat istimewa dimana amal kebaikan di lipat gandakan balasannya, doa dikabulkan dan dosa di ampuni.
"Kalau sekiranya umatku mengetahui segala (kebaikan) didalam bulan suci Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar semua tahun itu menjadi Ramadhan”, dikarenakan semua kebaikan itu berkumpul di bulan suci Ramadhan, ketaatan bisa diterima, semua doa dikabulkan, semua doasanya diampuni dan surga senantiasa merindukan mereka” (HR. Ahmad).
Mereka semua, Rasullah dan para sahabat serta salafus shalih menyadari betul bahwa belum tentu umur mempertemukan kembali dengan Ramadhan yang akan datang. Sehingga kesedihan yang mereka rasakan begitu mendalam. 
Bagaimana dengan kita ? Sebelum kita gembira dan bahagia menyambut datangnya syawal ada baiknya kita instropeksi diri sudah betulkah puasa kita ? Sesungguhnya orang puasa adalah yang mempuasakan seluruh anggota badannya dari dosa, dan mempuasakan lisannya dari perkataan dusta, kotor, dan keji, mempuasakan perutnya dari makan dan minum, dan mempuasakan kemaluannya dari jima’.Jika bicara dia berbicara dengan perkataan yang tidak merusak puasanya, hingga jadilah perkataannya baik dan amalannya shalih. Inilah puasa yang disyari’atkan Allah. Jika belum berjalan sesuai yang di syari'atkan masih ada waktu yang tersisa untuk kita maksimalkan. Janganlah kesibukan menyambut datangnya Syawal justru membuat kita merugi untuk selamanya.
Taqoballahu minkum.

0 komentar:

Posting Komentar