a
Selamat Datang di Blog Pribadi Samsul Bahri - Hadir Untuk Berbagi

Sabtu, 31 Mei 2014

ADA INTEL DI KHUTBAH JUM'AT ?

Pemilihan Presiden tinggal menghitung hari, aksi dukung mendukung semakin sering kita saksikan. Baik atas nama kelompok masyarakat maupun pribadi, rakyat seakan terbelah. Yang tadinya masih abu – abu sudah mulai kelihatan warnanya. Itu semua adalah wajar dalam sebuah negara demokrasi, perbedaan pilihan bukanlah sesuatu hal yang patut untuk ditakuti, yang harus ditakuti adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut.


Saya sangat terkejut ketika membaca beberapa berita media on line yang mengatakan bahwa PDI Perjuangan menjalankan aksi intelijen terhadap masjid-masjid. Mengawasi setiap khotbah yang ada. Awalnya saya beranggapan berita tersebut merupakan bagian dari kampanye hitam. Namun setelah mendengarkan penjelasan dari salah seorang anggota Tim Sukses Jokowi-JK Eva Kusuma Sundari yang mengakui hal tersebut saya menjadi heran, apakah demikian takutnya kita sehingga menghilangkan akal sehat ?  Dia mengatakan, “memang kader partai yang muslim diminta untuk melakukan aksi intelijen terhadap masjid-masjid, karena dikhawatirkan menjadi tempat terjadinya kampanye hitam, karena memang serangan kepada Jokowi-JK di masjid-masjid sangat intensif," kata Eva kepada situs RMOL, Jumat (30/5/2014).
Eva menyebutkan, kampanye hitam di masjid-masjid banyak terjadi. Bahkan, lanjutnya, kini makin marak dan masif. Partai awalnya tidak menghiraukan. Namun, pihaknya menilai aksi ini makin marak. Mereka heran kenapa masjid menjadi tempat kampanye hitam. Bahkan, pihaknya juga akan merekam aktivitas khutbah di masjid-masjid. "Jadi diperlukan pemantauan. Kalau bisa direkam agar supaya masjid tidak dikotori fitnah," katanya.
Cara ini, kata Eva, memang belum semua daerah atau masjid-masjid di Indonesia belum semua dipantau. Namun, ke depannya akan diberikan instruksi agar seluruh masjid di Indonesia dipantau.
"Bukan tidak mungkin diikuti seluruh (Indonesia). Karena di Jabar sangat meluas," kata anggota Komisi III DPR ini.
Sebagai seorang muslim saya tersinggung atas sikap tersebut, ada kesan seolah – olah para khatib dapat  di beli dengan menitipkan pesan – pesan demi kepentingan calon tertentu. Setahu saya semua khatib ketika mendekati pemilihan seperti ini, baik legislatif, kepala daerah ataupun presiden akan menyampaikan pesan – pesan yang sesuai dengan tuntunan agama berdasarkan Al – Quran dan Hadist seperti pilihlah pemimpin yang memiliki sifat kepemimpinan Rasullah SAW, minimal yang paling mendekati yakni ; Siddiq, Amanah, Fathonah dan Tabliq. Jadi, tolong jangan berlebih – lebihan apa lagi dengan membuat sesuatu kebijakan yang dianggap propokatif, karena sesungguhnya siapa yang memimpin Indonesia ini sudah ditentukan oleh Allah SWT. Sebagai tim sukses kewajibannya hanyalah berusaha. 

Untuk itu marilah kita bersikap biasa – biasa saja, karena apapun hasilnya, siapapun yang terpilih adalah Presiden Republik Indonesia. Dan semoga kekakuan yang terjadi sebelum pelaksanaan pilpres segera cair ketika hasil sudah didapat.

0 komentar:

Posting Komentar