a
Selamat Datang di Blog Pribadi Samsul Bahri - Hadir Untuk Berbagi

Rabu, 27 Juni 2012

PERJALANANKU KE SINGAPURA

Cerita ini sebenarnya cerita lama, namun karena cukup mewakili wajah Indonesia ketika itu atau barangkali saat ini pun masih seperti itu. Makanya saya coba memberanikan diri untuk menuangkannya dalam tulisan ini. Ketika itu tahun 2000, saya dan beberapa teman jalan - jalan ke Singapura. Rombongan berjumlah 8 (delapan) orang. Berangkat dari Dumai dengan menumpang ferry cepat dengan tujuan Batam, di Batam kami menginap 1 (satu) malam, besoknya baru menuju Singapura. 



Pagi - pagi sekali kami semua sudah siap - siap, tas pakaian sudah rapi, Jam 6 pagi kami turun untuk sarapan, setelah itu langsung check out dan menuju pelabuhan Batam. Dalam perjalanan ke pelabuhan ada usul dari teman, agar bagi teman yang merokok sebaiknya bawa bekal, beli di Batam jauh lebih murah ketimbang beli di Singapura. Akhirnya setelah sampai di pelabuhan seorang teman yang bernama Ilyas, kebetulan beliau yang tertua kami memanggilnya bapak, langsung mencari warung untuk membeli rokok seperti saran teman tadi. Tak tanggung - tanggung, pak Ilyas membeli 1 (satu) selop. Ketika ditanya kenapa banyak sekali pak? Beliau menjawab, "Kan perjalanan kita masih jauh, dari Singapura terus Malaysia, di Malaysia rokok mahal juga, lagipun rokok kan tidak basi".

Setelah bekal yang dirasa perlu cukup, kami masuk ruang tunggu, tidak lama kemudian kami pun diminta untuk menaiki ferry yang akan membawa kami menyeberang. Perjalanan yang sangat menyenangkan, ferry didesain sedemikian rupa memungkinkan penumpang melihat keindahan laut dan pulau - pulau yang ada antara Batam dan Singapura. Setengah jam perjalanan adalah waktu yang sangat singkat mengingat pemandangan yang ada sangat indah.

Sampai di Singapura, kami turun satu persatu dan terus menuju pintu keluar pelabuhan, di sana sudah ada petugas Imigrasi yang akan memeriksa Paspor kami. Pertanyaan petugas imigrasi kepada kami hanya satu, "Ada bawa rokok ?" sepertinya merokok sudah menjadi ciri khas orang Indonesia, sehingga petugas tersebut harus menanyakan itu kepada kami. Karena teman - teman tidak ada yang membawa dalam jumlah yang banyak, kami semua langsung disuruh lewat. Tinggallah pak Ilyas yang membawa rokok cukup banyak meskipun satu selop yang dibelinya tadi sudah tidak utuh, tetap saja jadi masalah. Pak Ilyas diharuskan membayar denda sebesar 50 dolar singapura, jika dikonversikan uang kita lebih kurang 200 ribu rupiah pada waktu itu, maksud hati ingin murah malah menjadi sangat mahal.

Kemudian kami dengan diantar taksi menuju hotel tempat kami menginap malam ini setelah terlebih dulu berpesan pada sopir taksi agar dicarikan hotel yang murah. Begitu kami sampai di hotel yang dituju, kami semua saling pandang dan tidak percaya, tidak mungkin hotel seperti ini murah. Namun untuk meyakinkan salah seorang dari kami langsung menuju resepsionis untuk menayakan apakah ada kamar dan berapa ratenya. Dan ternyata harganya satu malam 1,2 juta rupiah. Demi gengsi jadi juga kami menginap dihotel tersebut, untuk menghemat kami ambil 2 kamar saja sehingga satu kamar di isi 4 orang. Hehehe, lagi - lagi kelihatan udiknya.

Hari berikutnya saya dan beberapa teman ingin jalan - jalan melihat - lihat kota Sinagpura dengan menggunakan taksi. Lama kami berdiri didepan pintu hotel tapi tidak satupun taksi yang mau berhenti. Malah orang - orang yang berdiri agak jauh dari kami yang dilayani. Ini pasti ada yang salah, oh ternyata iya, kami salah karena menunggu taksi bukan pada tempatnya. Satu lagi kebiasaan salah dari orang Indonesia.

Hari terakhir di Singapura tidak banyak yang kami kerjakan mengingat kami siap - siap melanjutkan perjalanan ke Malaysia. Kota tujuan kami di Malaysia adalah Malaka, dari Malaka ke Kota kami Dumai hanya butuh waktu 2,5 jam dengan menggunakan ferry cepat. Perjalanan ini tidak banyak yang bisa saya ceritakan, hanya ada satu kejadian yang menurut saya ada hubungannya dengan wajah Indonesia. 

Ketika kami memasuki wilayah Malaysia, tepatnya di pos Imigrasi Johor. Ada dialog antara petugas Imigrasi dan saya. "Awak nak kemane ?" tanya petugas.
"Malaka ncek" jawab saya.
"Ape buat, nak cari kerje?"
"Tidak ncek, kami nak melancong"
"Malaka duduk dekat mane?
"Hotel ncek"
"Berape bawa duit?"
Saya tidak menjawab, tapi saya keluarkan semua uang yang saya bawa, sedikit dolar Singapura, ringgit Malaysia dan Rupiah. Setelah melihat itu, barulah paspor saya di cap. Saya selalu ingat dialog ini, karena saya merasa kita sebagai orang Indonesia dipandang rendah oleh bangsa lain, seolah - olah seluruh orang Indonesia yang datang adalah TKI untuk mencari pekerjaan. Untuk apa dia tahu di mana kita nginap dan berapa bawa uang ? Apakah ini sudah menjadi stempelnya orang Indonesia? Allahu'alam.

Itulah pengalaman saya ketika berada di Singapura dan Malaysia. Memang apa yang saya ceritakan ini tidak dapat di sama ratakan dengan semua orang, tapi setidaknya sikap dari petugas imigrasi tersebut baik Singapura maupun Malaysia dapat kita jadikan asumsi bahwa itulah wajah Indonesia di mata mereka. Perokok, tidak tertib dan TKI.


18 komentar:

  1. batas jumlah banyak itu seberapa kah..?
    1 slop atau beberapa bungkus..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau untuk di bawa kesana, paling banyak 2 bungkus lebih dari itu ya kena denda.

      Hapus
    2. saya ingin berbagi cerita kepada semua teman-teman bahwa saya yg dulunya orang yg paling tersusah,walaupun mau makan itu pun harus hutang dulu sama tetangga dan syukur kalau ada yg mau kasi,semakin aku berusaha semakin jauh juga pekerjaan dan selama aku ingin berbuat baik kepada orang lain semakin banyak pula yg membenci saya karna saya cuma dianggap rendah sama orang lain karna saya tidak punya apa-apa,dan akhirnya saya berencana untuk pergi mencari dukun yg bisa menembus nomor dan disuatu hari saya bertemu sama orang yg pernah dibantu sama MBAH KABOIRENG dan dia memberikan nomor MBAH KABOIRENG,dia bilan kepada saya kalau MBAH KABOIRENG bisa membantu orang yg lagi kesusahan dan tidak berpikir panjang lebar lagi saya langsun menghubungi MBAH KABOIRENG dan dengan senan hati MBAH KABOIRENG ingin membantu saya,,alhamdulillah saya sudah menang togel yg ke5 kalinya dan rencana saya bersama keluarga ingin membuka usaha dan para teman-teman diluar sana yg ingin seperti saya silahkan hubungi MBAH KABOIRENG di 085=260=482=111 saya sangat bersyukur kepada allah karna melalui bantuan MBAH KABOIRENG dan kini kehidupan saya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya,ingat kesempatan tdk akan datan untuk yg kedua kalinya.. KLIK TOGEL 2D 3D 4D 6D DISINI













      saya ingin berbagi cerita kepada semua teman-teman bahwa saya yg dulunya orang yg paling tersusah,walaupun mau makan itu pun harus hutang dulu sama tetangga dan syukur kalau ada yg mau kasi,semakin aku berusaha semakin jauh juga pekerjaan dan selama aku ingin berbuat baik kepada orang lain semakin banyak pula yg membenci saya karna saya cuma dianggap rendah sama orang lain karna saya tidak punya apa-apa,dan akhirnya saya berencana untuk pergi mencari dukun yg bisa menembus nomor dan disuatu hari saya bertemu sama orang yg pernah dibantu sama MBAH KABOIRENG dan dia memberikan nomor MBAH KABOIRENG,dia bilan kepada saya kalau MBAH KABOIRENG bisa membantu orang yg lagi kesusahan dan tidak berpikir panjang lebar lagi saya langsun menghubungi MBAH KABOIRENG dan dengan senan hati MBAH KABOIRENG ingin membantu saya,,alhamdulillah saya sudah menang togel yg ke5 kalinya dan rencana saya bersama keluarga ingin membuka usaha dan para teman-teman diluar sana yg ingin seperti saya silahkan hubungi MBAH KABOIRENG di 085=260=482=111 saya sangat bersyukur kepada allah karna melalui bantuan MBAH KABOIRENG dan kini kehidupan saya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya,ingat kesempatan tdk akan datan untuk yg kedua kalinya.. KLIK TOGEL 2D 3D 4D 6D DISINI

      Hapus
  2. semoga dari pristiwa tersebut bisa merubah pola pokir mereka, bahwa orang indonesia tidak selamanya rendah. buktinya sobat bukan mencari kerja tapi menambah divisa negara lain....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali mas, semoga kedepannya negara luar bisa lebih menghargai kita..

      Hapus
  3. Salam kenal balik mas....., Kisah yang menarik disertai Pengalaman yg berharga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas atas kunjungannya...

      Hapus
  4. di negara asean sendiri indonesia sudah dianggap sedemikian rendahnya..sampai ditanya berapa jumlah uang segala....ach kasihan bangsaku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, harus ada upaya serius dari pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, karena dengan itulah marwah bangsa ini akan terangkat.

      Hapus
    2. Sebenarnya itu pertanyaan standar di imigrasi dimana-mana. Ditanya mau urusan apa, nginepnya dimana. Kalau memang alasan melancong ya memang harus siap-siap ditanya punya tiket pulang atau malah bawa duit berapa. Apalagi (maaf) kalau "tampang" kita bukan tampang pelancong. Ya logika aja, kalau melancong mestinya kan bawa duit banyak dan sudah punya rencana keluar/pulang kapan.
      Kalau tidak begitu, mau bagaimana imigrasi memfilter pendatang yang mau masuk negaranya?

      Hapus
  5. support via komentar :D

    sukses selalu !

    salam persahabatan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam persahabatan, terima kasih atas supportnya mas...

      Hapus
  6. heeemmmm ternyata bangsa indonesia di mata mereka itu terlalu hina,
    thnks sob buat artikle nya.....

    BalasHapus
  7. hadir kembali menyapa sahabat :)

    BalasHapus
  8. salam idul fitri...mohon maaf lahir batin,
    salam hangat dari Makassar :)

    BalasHapus
  9. Bagi sebuah bangsa, penghargaan memang penting. Mungkin ada benernya juga ya pandangan secara pragmatis yg banyak dikatakan orang, bahwa kalo mau dihargai mesti pinter atau banyak uang.
    Sukses selalu mas....

    BalasHapus
  10. Mana mngkn satu slop didenda 50sgd?murah banget,gak salah nulis?saya yg bw 4 bkngs saja didenda sgd 60.

    BalasHapus