a
Selamat Datang di Blog Pribadi Samsul Bahri - Hadir Untuk Berbagi

Minggu, 22 Januari 2012

Refleksi Dumai 2011 Menatap 2012



Baru - baru ini sebuah sarasehan diadakan, yang mengambil tema "REFLEKSI DUMAI 2011, MENATAP 2012"  yang dilaksanakan oleh Pusat Kajian Strategis Kebijakan Daerah, dalam rangka peluncuran buku karangan Muhammad Zahari SH.MM. yang diberi judul "Meneroka Belantara Hukum Indonesia" dan "Hukum Administrasi Negara". Bertindak sebagai pembicara Setda Kota Dumai Bapak Drs.H.Said Mustafa M.Si dan Ketua DPRD Kota Dumai Bapak Zainal Effendi. Acaranya sendiri dilaksanakan di Auditorium STIA Lancang Kuning Dumai. Peserta yang hadir antara lain dari kalangan akademisi, politisi, LSM, Mahasiswa dan Insan Pers. Yang kebetulan saya dipercaya sebagai moderator.


Jujur saya katakan, untuk tampil pada acara tersebut saya butuh persiapan khusus dengan membaca beberapa referensi, sebagai orang yang miskin pengalaman tentunya referensi yang ada sangat membantu bukan hanya pengetahuan yang bertambah tapi lebih dari itu, rasa percaya diri juga bertambah.

Acara diskusi diawali dengan penyampaian prakata oleh moderator, selanjutnya secara berturut - turut nara sumber menyampaikan pemikiran terhadap kondisi Kota Dumai saat ini dan apa yang akan dilakukan untuk kemajuan Kota Dumai kedepan. Dimulai dari Ketua DPRD, satu hal yang menarik dari pernyataan beliau adalah, bahwa dana APBD Kota Dumai sebenarnya jika dilihat dari tinjauan geografis dan jumlah penduduk maka jumlah yang hampir mencapai 900 milyard tersebut cukup besar, jika saat ini kita mengatakan jumlah tersebut tidak mencukupi, itu karena kita tidak pandai memanej dengan baik. Sementara itu Drs. H.Said Mustafa M.Si, selaku setda Kota Dumai mengatakan bahwa Dumai merupakan daerah terkecil APBD nya di Propinsi Riau, oleh karena itu bantuan berbagai pihak dalam upaya mendukung percepatan pembangunan sangat dibutuhkan. Kemudian terkait dengan permasalahan air minum, beliau mengatakan akan segera melakukan pembicaraan dengan pemerintah Kab. Rokan Hilir sehubungan rencana Kota Dumai untuk memanfaatkan air sungai Rokan sebagai bahan baku air minum, mengingat air sungai Mesjid tidak memadai.

Setelah penyampaian kedua nara sumber, acara dilanjutkan dengan diskusi, yang belangsung cukup menarik, ada pernyataan, pertanyaan mau pun usul dari audiens yang disampaikan dengan berbagai macam gaya, ada yang santun, ada yang kasar ada yang lembut dan ada yang meledak - ledak, namun satu hal apapun gaya bahasanya yang pasti itu semua disampaikan sebagai wujud kepedulian masyarakat terhadap perkembangan daerahnya. Ada satu pertanyaan yang disampaikan oleh seorang mahasiswi dan tidak terjawab, karena memang sulit untuk dijawab, pertanyaannya begini. "kenapa mobil dinas bebas dibawa kemana - mana, kepasar, ke mall, dan tempat - tempat lainnya baik siang maupun malam hari? apakah itu juga dalam rangka dinas?"

Berikut ini adalah beberapa catatan penting yang dapat saya simpulkan dari diskusi tersebut :
1. Terkait dengan anggaran daerah yang dikatakan oleh pemerintah Kota Dumai sebagai yang terkecil di Riau, hendakanya pemerintah Kota Dumai bersikap bijak, jika memang anggaran yang ada tidak memadai, kenapa kita masih menghambur - hambur uang untuk hal - hal yang tidak perlu? Misalnya membangun tugu, memperindah rumah dinas maupun kantor - kantor, menggunakan mobil dinas yang tergolong mewah? Jika kita memang miskin pakailah cara orang miskin, belanjakan sesuai kebutuhan bukan keinginan. Bukankah lebih baik dana yang katanya sedikit itu digunakan untuk pembanguna infrastruktur yang menjadi kebutuhan masyarakat banyak dari pada dibelanjakan ke hal - hal yang tidak (belum) Perlu? Tidak ada salahnya kita mencontoh deaerah lain, seperti Kab. OKU Timur yang dipimpin oleh Bupati H.Herman Deru SH.MM dengan jumlah APBD yang sama dengan kita yaitu sekitar 800 milyar, sementara jumlah penduduknya jauh diatas kita. Herman Deru telah berhasil mengangkat daerahnya dari daerah miskin menjadi daerah dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di Indonesia. Lihatlah betapa masyarakatnya betul - betul mencintai beliau ini dibuktikan ketika pemilukada yang lalu berhasil dimenangkan dengan dukungan 94,56% suara.

2. Masalah banjir, merupakan sebuah permasalahan yang tidak pernah ada habisnya, dan akan tetap seperti itu ketika kita tidak pernah serius dalam mengatasinya. Persoalan banjir hanya dibicarakan ketika banjir itu sudah datang, bagaiman mungkin kita bisa berpikir rasional ketika kita dalam keadaan panik, maka jangan heran jika kemudian ada yang mendatangkan mobil pemadam kebakaran untuk mengatasi banjir dengan cara menyedot air banjir tersebut. Atau ada juga yang membuat kanal tanpa tahu mau dialirkan kemana, akibatnya apa ? Hanya menciptakan sarang nyamuk.

3. Sampai saat ini, jati diri Kota Dumai masih melekat sebagai daerah melayu dan itu harus tetap dipertahankan sampai kapan pun, bukan berarti Dumai anti dengan budaya atau kepercayaan lainnya masuk. Namun satu hal yang patut digaris bawahi, bahwa toleransi bukan berarti menghilangkan jati diri Masyarakat tempatan. Pemerintah Kota Dumai haruslah melakukan proteksi terhadap jati diri daerahnya, dengan tidak membiarkan hal - hal yang bertentangan dengan norma, adat kebiasaan yang ada berkembang apalagi memfasilitasinya yang pada gilirannya Dumai sebagai daerah Melayu akan tinggal nama saja.

4. Terhadap pembangunan Air Minum. Ada kesan di masyarakat bahwa pemerintah sekarang enggan melanjutkan proyek tersebut, karena itu peninggalan pemerintahan sebelumnya, pendapat ini mengemuka ketika kita melihat langkah - langkah yang diambil pemerintah seolah - olah ada upaya untuk menghalang - halangi penyelesaiaan pekerjaan tersebut dengan berbagai macam dalih, mulai dari meminta pendapat hukum dari berbagai instansi untuk menanyakan apakah pekerjaan tersebut boleh dibayarkan, sampai dengan meminta pendapat konsultan (katanya) untuk meminta pendapat apakah sumber air baku yang ada saat ini layak atau tidak? Dan berdasarkan pernyataan Setda Kota Dumai, bahwa hasil kajian terbaru menyebutkan, sumber air baku dari  sungai mesjid tidak layak dan akan dipindahkan ke sungai rokan. Persoalannya adalah, apakah memang hasil kajian tersebut benar? Bukankah yang menyatakan bahwa sungai mesjid layak sebagai bahan baku juga berdasarkan penelitian? Jika memang hasil penelitian terakhir yang benar maka sudah sepantasnya pemerintah mengajukan klaim terhadap konsultan pertama yang terbukti hasil kajiannya salah. Mudah - mudahan jika langkah ini ditempuh, maka pendapat yang mengatakan bahwa pemerintah saat ini enggan melanjutkan pekerjaan proyek air minum akan terbantahkan.
Inilah beberapa catatan penting yang dapat saya rekam dari sarasehan tersebut, meskipun sebenarnya masih banyak hal - hal yang menjadi topik dalam diskusi, seperti penyelesaian masalah tanah konsesi, pembangunan jalan Purnama, serta saran untuk mengganti IKAN LOMEK sebagai ikon dan lain - lain.  Semoga apa yang dihasilkan dari sarasehan "REFLEKSI DUMAI 2011, MENATAP 2012" dapat dijadikan  momentum semua pihak untuk bekerja lebih giat lagi dalam upaya mewujudkan visi Dumai sebagai Kota Pengantin Yang Berseri. Semoga.

0 komentar:

Posting Komentar